Minggu, 04 Desember 2011

NASKAH MERTASINGA: KISAH SUNAN KALIJAGA DI CIREBON ( II )

WANGSIT SUNAN KALIJAGA KEPADA PANEMBAHAN RATU
(pupuh LXVI.04 - LXVI.20)
Diceritakan sebuah peristiwa di Pakungwati semasa pemerintahan Panembahan Ratu, peristiwa ini terjadi sebelum wafatnya Sunan Kalijaga. Di dunia ini memang banyak hal-hal yang gemerlapan yang dapat dilihat. Diceritakan Ki Palidada hatinya merasa sedih mengingat akan keberuntungan junjungannya. Dibandingkan dengan apa yang diperoleh oleh raja-raja seberang. Dia selalu memikirkannya bagaimana caranya untuk mengikuti jejak mereka. Pikirnya, raja dari seberang itu dagangannya selalu untung, sedangkan tuannya Panembahan rejekinya morat-marit. Oleh karena itu Ki Palidada kemudian menghadap Panembahan dan disampaikannya keresahannya. Ki Palidada berkata bahwa dia sanggup untuk membantu kehidupan Panembahan seperti halnya negara-negara yang lain. Atas usul itu Panembahan Ratu berkata, "Palidada aku harus berdagang apa?". Dijawab Ki Palidada, "Kita akan berdagang beras, karena besar keuntungannya". Mendengar bujukan itu Panembahan setuju dan segera memerintahkan untuk menyiapkan beras. Tak lama kemudian karung-karung beras telah menumpuk di pantai seperti gunung, dan sudah disiapkan juga perahunya.
Di tengah kesibukan demikian dikisahkan datang seorang pengemis yang menyodor-nyodorkan tempurungnya. Katanya, "Tuan, hamba minta beras untuk menghilangkan lapar, sekedar segenggam saja", berkata demikian sambil terus menyodor-nyodorkan tempurungnya. Melihat itu Ki Palidada merasa terganggu dan berkata dengan kasar serta mata membelalak, "He keparat kamu, apa kamu tidak melihat bahwa beras ini sudah dikarungi semua, tak bisa dibongkar lagi".
Akan tetapi pengemis itu masih juga merajuk meminta-minta. Begitulah Palidada amarahnya tidak tertahankan lagi, tangannya diangkat akan menempeleng pengemis itu. Akan tetapi tiba-tiba tangannya itu menjadi kejang, dan dia pun mengangkat kakinya akan menendang si pengemis, akan tetapi kaki Ki Pali yang satu itu pun tetap terangkat keatas dan tak bisa turun lagi sehingga dia jatuh terguling. Ki Pali menjerit berguling-guling di tanah dan orang-orang segera berdatangan memberikan pertolongan. Apa yang telah terjadi kepada Ki Pali itu segera dilaporkan kepada Panembahan Ratu. Berkata Panembahan Ratu, "Pengemisnya seperti apa?". Yang ditanya menjawab, "Pengemis itu kakinya belang, dan juga kedua tangannya. Entah dimana tempat tinggalnya".
Mendengar itu Panembahan Ratu kemudian berkata, "Bilamana demikian, bawalah Ki Palidada segera ke hadapan eyang Kalijaga, dan suruh Ki Pali untuk bertobat kepadanya. Jangan lupa untuk membawa beras sebanyak sepuluh dacin dan katakanlah itu sebagai baktiku". Maka para abdi itu segera melakukan perintahnya dengan patuh. Dengan menggotong Ki Palidada dan karung beras, mereka pergi menuju ke Kalijaga menghadap sang Aulia. Di hadapan Sunan Kalijaga, Ki Pali bertobat sambil menangis, "Kanjeng Gusti hamba mohon diberi hidup", demikian permohonannya. "Baiklah permintaanmu kuterima", ujar wali. Setelah sang Wali berkata demikian Ki Palidada segera sembuh kembali seperti sediakala. Kemudian berkata Ki Palidada, "Terima kasih banyak Kanjeng Gusti Wali", sambil menyembah berkali-kali, "dan ini hamba sampaikan bakti hamba, beras banyaknya sepuluh pikul".
Berkata sang wali, "Mengenai beras berdacin-dacin yang kau bawa kehadapanku itu, apa maksudmu". Ki Pali berkata, "Itu adalah baktinya tuanku Panembahan Pakungwati, untuk dipersembahkan kepada tuan. Berkah tuanlah  yang diharapkan". Sang Wali menjawab, "He Palidada, kebaikan tuanmu itu kuterima. Akan tetapi sekarang beras itu bawalah pulang lagi, aku tak menginginkannya. Mustahil karena peristiwa itu tuanmu menjadi durhaka, aku tak seperti itu. Memang betul tadi aku mengemis beras sebatok kecil untuk pengobat lapar, akan tetapi Palidada aku tak mengharapkan banyak. Sekarang sudahlah, semua itu bawa kembali lagi saja".
Segera Ki Palidada permisi pulang dan setelah sampai lalu menyampaikan apa yang didengarnya kepada tuannya. Mendengar itu Panembahan lalu berkata, "Sekarang ya sudahlah, dalam hal dagang itu kita batalkan saja. Kita yang ada di Carbon ini tak boleh berdagang, hingga anak keturunanku kelak. Itulah yang menjadi wangsit, janganlah kita salah terima, Kanjeng Eyang Sunan Kalijaga telah memberikan wangsitnya. Tidak ada wali yang bohong atau keliru dan membuat fitnah, serta sembarangan dalam perbuatannya".
Lalu Ki Palidada pun segera membatalkan pekerjaannya, beras-beras dari pinggir pantai diambil lagi dan kemudian dibagikan kepada semua pengikutnya, para buyut dan seluruh rakyat kecil. Semua senang hatinya atas kebaikan rajanya itu. Para buyut semua menyaksikan bahwa anak cucu Carbon tidak diijinkan dalam perkara dagang itu. Yang memberikan wangsit adalah leluhurnya raja wali, dengan demikian kita harus selalu bersyukur.
 
 
Hasil alih aksara dan alih bahasa dari naskah-naskah lama mengenai Babad Cirebon dan Pajajaran post by Amman .....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar